KLUB ISL YANG MASIH MENUNGGAK GAJI PEMAINNYA
SURABAYA - Indonesia Super League (ISL) 2014 ternyata tidak membawa perbaikan bagi tim-tim asal Jawa Timur. Secara keuangan, justru terjadi kemerosotan dengan mewabahnya tunggakan gaji untuk pemain di akhir musim.
Jika pada musim 2012-2013 hanya ada Persela Lamongan yang menunggak gaji, akhir tahun ini jumlahnya membengkak. Selain Persela, juga ada Persegres Gresik United, Persik Kediri, serta Persebaya Surabaya, yang terlambat membayar hak pemainnya.
Bahkan Arema Cronus masih memiliki hutang yang digunakan membayar gaji pemain sebelum partai semifinal lalu. Sedangkan Persepam Madura United yang tidak mengalami masalah pembayaran gaji, malah terdegradasi ke Divisi Utama.
Berdasar penelusuran Okezone, krisis keuangan di akhir musim sebenarnya sudah terbaca sejak dimulainya kompetisi. Manajemen klub sebenarnya tahu bahwa mereka akan kesulitan di akhir musim untuk menutup sisa gaji pemain.
Sumber internal di salah satu klub Jawa Timur mengatakan, sejatinya tim yang bakal mengalami masalah pembayaran gaji sudah tahu sejak awal musim. Saat itu manajemen sudah memiliki kalkulasi berapa dana yang tersedia dan sampai kapan bisa menggaji pemain.
Itu adalah dana yang terkumpul dari sponsor. "Selanjutnya kami berharap pemasukan tiket pertandingan untuk menutup kekurangan gaji. Selain pendapatan tiket, hampir mustahil mendapat dana dari sponsor di pertengahan musim," kata sumber tersebut.
Jika perolehan tiket tidak maksimal, maka dipastikan keuangan tim akan oleng di akhir musim. Bahkan menurut sumber tersebut, terkadang dana segar yang tersedia di awal musim hanya cukup untuk membayar gaji pemain selama beberapa bulan saja.
"Tapi pastinya kami dari manajemen tidak mungkin menjelaskan ke publik bahwa dana klub hanya sekian. Bisa membuat suporter dan pemain kecewa dan menyalahkan kami. Padahal mencari sponsor juga tidak mudah," imbuhnya.
Sebenarnya ada jalan pintas dengan mencari pinjaman ke pihak ketiga. Namun itu juga tidak gampang karena manajemen akan terbebani pembayaran hutang, sedangkan pemasukan dana segar dari sponsor masih harus menunggu musim baru.
Kecuali Arema Cronus yang memiliki sponsor besar seperti Anker Sport, tim JawaTimur lainnya hanya memiliki sponsor dengan kaliber teri. Bahkan tim seperti Persegres Gresik United harus berharap kebaikan hati pemilik klub H Syaiful Arif, karena sponsor dan pendapatan tiket tak bisa diharapkan.
Dengan mewabahnya krisis keuangan seperti sekarang ini, pertanyaannya adalah bagaimana nasib mereka musim depan? Kompetisi ISL 2015 bakal kembali ke format satu wilayah dengan kontestan lebih banyak yang tentunya membutuhkan dana dua kali lipat dibanding musim ini.
(FAP)